Sabtu, 29 Agustus 2026

NU DAN KEMERDEKAAN: DARI RESOLUSI JIHAD HINGGA MUKTAMAR KEBANGSAAN (Opini)

CV. Goresan Pena


NU DAN KEMERDEKAAN: DARI RESOLUSI JIHAD HINGGA MUKTAMAR KEBANGSAAN

Oleh: Emha Fawaid Ibnu Rusy *)

(Alumni Ponpes Nurul Muchlisin Rubaru, Sumenep dan Pesma Al-Husna Surabaya)

 

 

Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 bukanlah peristiwa yang lahir begitu saja. Ia adalah buah dari ikhtiar panjang, pengorbanan, dan doa para ulama serta santri di seluruh penjuru Nusantara. Dalam rangkaian sejarah itu, Nahdlatul Ulama hadir sebagai salah satu kekuatan moral dan spiritual terbesar yang menopang lahirnya dan tegaknya Republik. NU tidak berdiri di pinggir sejarah. NU berada di jantungnya.

 

Dua bulan setelah proklamasi, tepatnya 22 Oktober 1945, Rais Akbar NU Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad. Fatwa itu menegaskan bahwa mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari rongrongan penjajah adalah fardhu ‘ain bagi setiap muslim yang berada dalam radius 94 km dari tempat pertempuran. Dari fatwa inilah lahir semangat 10 November di Surabaya. Santri dengan bambu runcing maju melawan sekutu. Resolusi Jihad menjadi bukti bahwa iman dan nasionalisme dapat berjalan beriringan.

 

Resolusi Jihad bukan sekadar seruan perang. Ia adalah ijtihad politik kebangsaan pertama NU. Melalui fatwa itu, NU menegaskan posisi: bahwa negara Indonesia yang baru merdeka wajib dijaga, karena di dalamnya umat Islam bisa beribadah dengan aman dan para kiai bisa mendidik santri tanpa intervensi kolonial. Inilah cikal bakal hubungan NU dengan negara yang bersifat konstruktif, bukan konfrontatif.

 

Sejak itu, NU terus hadir dalam setiap fase perjalanan bangsa. Mulai dari perumusan dasar negara, pemberontakan PKI Madiun 1948, hingga reformasi 1998. NU selalu memilih jalan tengah: tidak ekstrim kanan, tidak ekstrim kiri. NU memilih Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang moderat, toleran, dan membumi. Jalan ini yang membuat NU tetap relevan selama lebih dari satu abad.

 

Muktamar Ke-35: Meneguhkan Arah Kebangsaan NU di Era Peradaban


Titik temu terbaru antara NU dan semangat kemerdekaan itu terlihat pada Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur. Pemilihan Jombang sebagai tuan rumah bukan kebetulan. Tanah ini adalah tanah para muassis NU. Dari sinilah KH. Wahab Chasbullah, KH. Bisri Syansuri, dan para pendiri merumuskan khittah organisasi. Kembali ke Jombang berarti kembali ke ruh awal: NU untuk bangsa.

Muktamar ke-35 tidak hanya berfokus pada pergantian kepemimpinan. Lebih dari itu, muktamar ini menjadi forum merumuskan jawaban NU atas tantangan kebangsaan abad 21. Tema yang mengemuka adalah bagaimana NU mengisi kemerdekaan dengan peradaban. Jika dulu ancaman kemerdekaan datang dalam bentuk senjata, maka hari ini datang dalam bentuk hoaks, radikalisme, krisis iklim, dan ketimpangan ekonomi.

Dalam forum tersebut, KH. Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam menyampaikan gagasan penting tentang “Islam Nusantara”. Menurut beliau, Islam Nusantara adalah cara NU mengejawantahkan ajaran Islam universal ke dalam konteks budaya lokal Indonesia. Islam yang ramah, tidak memusuhi tradisi, dan mengedepankan musyawarah. Saya memandang teori ini kontekstual. Islam Nusantara bukanlah agama baru. Ia adalah metode dakwah. Ia menjawab kegelisahan: bagaimana tetap menjadi muslim yang kaffah sekaligus warga negara yang mencintai budayanya sendiri.

Senada dengan itu, KH. Yahya Cholil Staquf dalam pidato kebangsaannya mengingatkan bahwa tugas NU hari ini adalah menjadi “penjaga akal sehat bangsa”. Ancaman terbesar kemerdekaan saat ini bukan lagi penjajah fisik, melainkan penjajahan algoritma dan polarisasi. Karena itu NU harus membangun narasi besar: dari Resolusi Jihad menuju Resolusi Peradaban. Saya sependapat. Jika 1945 kita merdeka secara politik, maka 2026 dan seterusnya kita harus merdeka secara literasi, ekonomi, dan mental.

Muktamar ke-35 juga menegaskan kembali empat pilar kebangsaan: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Bagi NU, ini bukan slogan. Ini adalah hasil ijtihad kolektif. Para kiai NU sejak dulu sudah melihat bahwa kebangsaan adalah bagian dari syariat. Menjaga Indonesia sama dengan menjaga umat. Karena itu tidak ada dikotomi antara santri dan nasionalis. Santri sejati adalah nasionalis sejati.

Secara kelembagaan, NU melalui muktamar ini didorong untuk masuk lebih dalam ke ranah kebijakan publik. Lembaga-lembaga seperti LP Ma’arif, RMI, LPNU, dan BUMN NU harus menjadi mesin penggerak kemandirian umat. Kemerdekaan tanpa kedaulatan ekonomi adalah kemerdekaan yang rapuh. Pesantren tidak cukup hanya mencetak penghafal kitab. Ia juga harus mencetak wirausahawan, insinyur, dokter, dan ilmuwan yang berakhlak NU.

Jika kita tarik garis merah, maka ada kesinambungan yang indah antara 1945 dan 2026. Dulu para kiai menggerakkan santri ke medan laga dengan takbir. Hari ini para kiai menggerakkan santri ke laboratorium, ruang kelas digital, dan pasar. Dulu jihad melawan penjajah, hari ini jihad melawan kebodohan dan kemiskinan. Esensinya sama: membela kemerdekaan.

Tantangan NU ke depan adalah menjaga keaslian tradisi sekaligus terbuka pada perubahan. Generasi Z dan Alpha tidak bisa hanya diajak dengan pengajian satu arah. Mereka butuh NU yang hadir di podcast, YouTube, startup, dan ruang-ruang kreatif. Muktamar ke-35 memberi sinyal kuat: NU harus berani bertransformasi tanpa kehilangan jati diri.

Pada akhirnya, sejarah telah membuktikan satu hal. Selama NU masih berdiri di atas prinsip cinta tanah air bagian dari iman, maka Indonesia akan tetap kokoh. Dari Resolusi Jihad di Surabaya hingga Muktamar Kebangsaan di Tambak Beras, NU terus menjadi penjaga gerbang kemerdekaan.

 

Karena itu merawat NU berarti merawat Indonesia. Dan merawat Indonesia berarti meneruskan cita-cita para kiai pejuang.

 

Post: 29 Agustus 2026; 18.10 WIB

 

*) Departemen 3: Pembinaan Mental Aswaja dan Lintas Sektoral (PMALS) PERGUNU Tanggul (2025-2030)


Minggu, 16 Agustus 2026

MERDEKA TAPI TERJAJAH (Opini)

 

https://www.proaktifmedia.com/

MERDEKA TAPI TERJAJAH

Emha Fawaid Ibnu Rusy*)

 

 

Kami kibarkan sang saka dengan dada yang gagah 

Teriak "Merdeka!" tapi hati masih serakah 

Tanah warisan dijual demi gaya yang mewah 

Budaya leluhur ditukar demi tawa yang murah.

 

Kami merdeka dari bedil, namun jiwa masih terbelenggu resah 

Kapan kita benar-benar bebas, merdeka dengan tawa yang renyah.

 

Kantor dipenuhi cendekia, namun hatinya serakah 

Negeri melahirkan juara, tapi nuraninya hilang arah 

Pemimpin bersumpah suci, kata-katanya penuh pesona indah 

Kenyataan di lapangan, ternyata biang dari segala musibah.

 

Kami lepas dari bedil penjajah, tapi batin masih dililit resah 

Kapan kita benar merdeka, dengan senyum yang tulus dan cerah.

 

Posting: 17 Agustus 2026; 08.00 WIB

 

*) Alumni Ponpes Nurul Muchlisin Rubaru, Sumenep dan Pesma Al-Husna Surabaya

Departemen 3: Pembinaan Mental Aswaja dan Lintas Sektoral (PMALS) PERGUNU Tanggul (2025-2030)

Minggu, 14 September 2025

SUSUNAN PENGURUS PERSATUAN GURU NAHDLATUL ULAMA TANGGUL MASA KHIDMAT 2025-2030


SUSUNAN PENGURUS PLENO

PERSATUAN GURU NAHDLATUL ULAMA TANGGUL

MASA KHIDMAT 2025-2030

 

 

DEWAN PENASEHAT :

1.    Rais Syuriyah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Tanggul

2.    Ketua Tanfidziyah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Tanggul

 

DEWAN PAKAR                  : H. Dedi Ependi, S.Ag., M.MPd.                           (Tanggul Wetan)

: Hendra Wahyudi, S.H.I.                                        (Darungan)

: Dr. Mohamad Barmawi, S.Th.I., M.Hum.           (Klatakan)

: Muhammad Ilham, S.Pd.I.                                    (Patemon)

 

PIMPINAN HARIAN

A.   Ketua                               : Syaifudin Zuhri, M.Pd.                                          (Darungan)

Wakil Ketua                    : Hafid Dwi Sinatriya, S.Pd.I.                                  (Klatakan)

 

B.   Sekretaris                       : Samsul Huda, SH.                                                 (Darungan)

Wakil Sekretaris                        : Yulistiana Febrian Rosayanti, M.Pd.                  (Selodakon)

 

C.   Bendahara                     : Lilis Indrayani, S.H.I.                                             (Darungan)

Wakil Bendahara          : Usik Ujiati, S.Pd.I.                                                  (Tanggul Wetan)

 

D.   Departemen 1: Pendidikan, Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan (DIKLATLITBANG)

1.    Koordinator              : Ike Sri Haryanti, S.Pd.                               (Darungan)*

2.    Wakil Koordinator   : Abdul Gafur, S.Pd.I.                                   (Manggisan)*

3.    Anggota                    : City Soviya Azzahra, SH.                         (Kramat Sukoharjo)

4.    Anggota                    : Muhammad Saeri, S.Pd.                          (Manggisan)

5.    Anggota                    : Lailiyatul Hasanah                                    (Selodakon)

6.    Anggota                    : Agus Wahyudi, SE                                    (Tanggul Kulon)

7.    Anggota                    : Mughnan Faroid, SE.                                (Tanggul Wetan)

8.    Anggota                    : Mughni Fawarid, S.Pd.                             (Tanggul Wetan)

9.    Anggota                    : M. Ismail Wahyuda, S.Pd.                        (Tanggul Wetan)

10. Anggota                    : Hj. Sofwana, S.Ag., M.MPd.                     (Tanggul Wetan)

11. Anggota                    : Iklil Madjid Mudhoffar, S.Pd.                    (Tanggul Wetan)

 

E.   Departemen 2: Ekonomi, Koperasi, Olahraga, Seni dan Budaya (EKOSB)

1.    Koordinator              : H. Holil Nawawi, M.E.                                (Darungan)*

2.    Wakil Koordinator   : Abdul Kholiq, SE.                                      (Kramat Sukoharjo)*

3.    Anggota                    : Imroatul Azizah, S.Pd.I.                            (Tanggul Wetan)

4.    Anggota                    : Halimatus Sa'diyah, S.Pd.I.                      (Darungan)

5.    Anggota                    : Fitriya Eka Widiawati, S.Pd.                     (Kramat Sukoharjo)

6.    Anggota                    : Susiyati, S.Pd.                                            (Darungan)

7.    Anggota                    : Husnul Khotimah, S.Pd.                           (Darungan)

8.    Anggota                    : Mita Silvia Muslimah                                 (Selodakon)

9.    Anggota                    : Anggi Dwi Kusuma Wardani                   (Selodakon)

10. Anggota                    : Umam Akbar Widiansyah                        (Tanggul Wetan)

11. Anggota                    : Nur Mukminah, S.Pd.                                (Manggisan)

 

F.    Departemen 3: Pembinaan Mental Aswaja dan Lintas Sektoral (PMALS)

1.    Koordinator               : Mohamad Naim, M.Pd.                             (Tanggul Wetan)*

2.    Wakil Koordinator    : Mokhlas Adi Putra, S.Pd.I.                       (Tanggul Wetan)*

3.    Anggota                     : Ahmad Zainuddin, S.Pd.I.                        (Tanggul Wetan)

4.    Anggota                     : H. Ma’sum Masyhuri, S..Pd.                    (Darungan)

5.    Anggota                     : Mohamad Idrus Fadrozi, S.Pd.I.              (Tanggul Wetan)

6.    Anggota                     : Badarut Tamam, S.Pd.I.                           (Patemon)

7.    Anggota                     : Muhammad Sholeh Faruqi                      (Tanggul Kulon)

8.    Anggota                     : Muhammad Musdar, S.Pd.                      (Selodakon)

9.    Anggota                     : Hasan Busri, S.Pd.I.                                  (Manggisan)

10. Anggota                     : Moh. Fawaid, S.Pd.                                   (Tanggul Kulon)

 

 

Keterangan:

1.    KONFERANCAB, hari Ahad Pon, 30 Shaffar 1447 H / 24 Agustus 2025 M, di Kantor MWC NU Tanggul,

2.    musyawarah penyusunan kepengurusan hari Ahad, 14 Rabi’ul Awal 1447 H / 14 September 2025 M, di Tanggul Wetan.

Kamis, 10 Oktober 2024

FUNGSI ORGANISASI NAHDLATUL ULAMA (NU) DI MASYARAKAT PEDESAAN (Artikel)



Fungsi Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) di Masyarakat Pedesaan

Oleh : Mokhlas Adi Putra, S.Pd.I. *)

 

Nahdlatul Ulama (NU) merupakan salah satu organisasi masyarakat terbesar di Indonesia, dengan basis yang kuat di kalangan masyarakat pedesaan. Sebagai organisasi yang memiliki tujuan untuk memajukan dan mengembangkan nilai-nilai Islam yang moderat, NU memainkan peran penting dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat pedesaan. Berikut adalah beberapa fungsi utama NU di lingkungan pedesaan.

 

1.    Pendidikan dan Pengembangan SDM

NU aktif dalam bidang pendidikan, baik formal maupun non-formal. Dengan mendirikan madrasah, pesantren, dan lembaga pendidikan lainnya, NU berkontribusi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di pedesaan. Pendidikan yang diberikan tidak hanya fokus pada ilmu agama, tetapi juga mencakup ilmu pengetahuan umum, keterampilan hidup, dan kewirausahaan.

 

2.    Pemberdayaan Ekonomi

NU juga berperan dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat. Melalui berbagai program, seperti pelatihan keterampilan dan koperasi, NU membantu masyarakat pedesaan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan. Kegiatan ekonomi yang digagas oleh NU seringkali berfokus pada produk lokal dan usaha mikro, yang memberdayakan masyarakat untuk mandiri secara ekonomi.

 

3.    Pembinaan Sosial dan Kemanusiaan.

Sebagai organisasi sosial, NU berfungsi sebagai jembatan dalam menyelesaikan berbagai masalah sosial di masyarakat pedesaan. Melalui program-program kemanusiaan, NU memberikan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan, seperti bantuan pada saat bencana alam, program kesehatan, dan pelayanan sosial lainnya. NU juga aktif dalam membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya solidaritas dan gotong royong.

 

4.    Penegakan Nilai-Nilai Keagamaan.

NU berperan dalam menjaga dan menegakkan nilai-nilai keagamaan di masyarakat. Dengan pendekatan yang moderat, NU mengedukasi masyarakat tentang ajaran Islam yang rahmatan lil-alamin, mendorong toleransi antarumat beragama, serta mengajak masyarakat untuk hidup rukun dan damai. Kegiatan pengajian, majelis taklim, dan perayaan hari besar Islam menjadi sarana efektif dalam menyebarluaskan nilai-nilai ini.

 

5.    Advokasi dan Pemberdayaan Politik.

NU juga terlibat dalam advokasi hak-hak masyarakat, terutama dalam konteks politik lokal. Organisasi ini berusaha untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses politik, memberikan pendidikan politik, dan mendorong masyarakat untuk menggunakan hak suaranya secara bijak. Dengan cara ini, NU berkontribusi pada peningkatan kualitas demokrasi di tingkat desa.

6.    Pelestarian Budaya Lokal.

NU berkomitmen untuk melestarikan budaya dan tradisi lokal. Melalui berbagai kegiatan seni dan budaya, NU mendukung pelestarian nilai-nilai budaya yang ada di masyarakat pedesaan. Hal ini tidak hanya penting untuk identitas masyarakat, tetapi juga sebagai media untuk menyebarkan pesan-pesan moral dan nilai-nilai Islam.

 

Kesimpulan

Fungsi organisasi Nahdlatul Ulama di masyarakat pedesaan sangatlah beragam dan integral. Dengan pendekatan yang komprehensif, NU tidak hanya fokus pada aspek keagamaan, tetapi juga pendidikan, ekonomi, sosial, dan budaya. Keberadaan NU di pedesaan menjadi salah satu pilar penting dalam pembangunan masyarakat yang lebih baik, sejahtera, dan beradab. Melalui berbagai program dan kegiatan, NU berkontribusi signifikan dalam menciptakan masyarakat yang harmonis dan berdaya saing.

 

*) aktivis PERGUNU TANGGUL, LP. MA’ARIF MWC NU Tanggul, yang juga Kepala MI Darul Falah Darungan-Tanggul. Berdomisili di Curahbamban, Desa Tanggul Wetan.



NU DAN KEMERDEKAAN: DARI RESOLUSI JIHAD HINGGA MUKTAMAR KEBANGSAAN (Opini)

CV. Goresan Pena NU DAN KEMERDEKAAN: DARI RESOLUSI JIHAD HINGGA MUKTAMAR KEBANGSAAN Oleh: Emha Fawaid Ibnu Rusy *) (Alumni Ponpes Nurul ...